Rabu, 06 Agustus 2014


15 July 2014
“ Biar waktu yang bicara. Jangan, terimakasih atas ajakannya, kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasi, lembah mandalawangi.”
Dengan berkata seperti itu, apa semuanya akan selesai?
Wahai sipemilik janji, sungguh aku telah merelakan apa yang kau sebut janji itu.
Kelak, akan terbit sang mentari yang kan menyinari lembah kasih,
Lembah mandalawangi, yang dahulu ingin kupijakan kaki diatasnya,
Tapi kabut tipis yang kau biarkan turun secara perlaha,
Menghalangi pandanganku, pada lembah kasih, lembah mandalawagi,
Dan ku yakini dalam hati, suatu hari nanti,
Mentari akan terbit, dan menyinari lembah kasih,
Lembah mandalawangi, ya, suatu hari nanti.


Walau hanya terucap sepatah kata yang tak ada arti,
Walau kau tak bermaksud menyayatnya,
Hati ini teriris, menangis, dan terpuruk.
Aku relakan itu semua,
Asalkan kau yang menyayat hati ini walau kau tak bermaksud, aku rela.
Asalkan kau yang membuatnya meneteskan air mata, aku rela.
Asalkan aku terpuruk karnamu, aku rela.
Andai aku tau bagaimana cara memahamimu,
Inginku terus disampingmu,
Tapi aku belum memahami diriku sendiri,
Dan aku tak bisa memahamimu,
Maaf abeey,
Mungkinkah aku menjadi yang terbaik bagimu?
Abeey, kuharap engkau tau,
Betapa aku mencintaimu….

Selasa, 05 Agustus 2014


13 July 2014
Tentang janji,
Janji adalah hutang, begitu pribahasa mengatakan tentang janji, bagaimana jika janji itu terlupakan ? bagaimana jika si pemilik janji ingin menepatinya, tetapi orang yang ia janjikan sudah mengikhlaskan janji tersebut dengan alasan tertentu ? apakahsi pemilik janji masih harus menebus janjinya ? dan apakah salah apabila si pemilik janji meminta kita untuk mengingatkan janjinya tersebut ?
Aahhh tentang janji, saya tidak pernah memikirkan tentang janji seseorang teradap saya, karna saya tau tidak semua janji akan bisa ditepati. Tapi apakah salah jika saya menolak seseorang yang ingin menebus janjinya terhadap saya?
Padahal saya sendiri tidak tau hal apa yang pernah ia janjikan kepada saya.
Cukup tentang dia, tentang janji dan sipemilik janji, enyahlah kau dan tak perlu muncul lagi di kehidupanku. Maaf kawan.


Tentang janji,
Janji adalah hutang,
Ya, janji adalah hutang,
Apa yang membuatku mampu mengatakan  “janji”?
Padahal aku tau ku tak mampu menepati janji itu,
Dan kau, kenapa kau berjanji padaku?
Sampai aku lupa tentang janji itu ?
Kawan, ku ikhlaskan janjimu,
Tak usah kau menebusnya,
Dan tentang janji, tak usah kau mengucap “janji”
Jika kau tak yakin akan menepatinya.
Padaku, padanya dan pada siapapun itu.
Tentang janji,
Ya, tentang janjimu kawan.                       





07 Juli 2014
Melihatmu bagaikan bercermin pada diri sendiri,
Keras kepalamu begitu juga aku,
Aku ingin memahamimu dengan caramu,
Aku ingin kau memahamiku juga,
Tapi, mengapa hal sekecil itu sangat sulit terasa?
Apa mungkin, kau belum mengenal dirimu seniri?
Apa mungkin, akupun tak mengenal siapa aku ?
Karna kamu adalah aku, aku adalah kamu,
Mungkin, kita harus menganal siapa diri kita?
Mungkin kita harus memahami diri kita sendiri?
Cobalah kau pahami dirimu dan kenali dirimu,
Kau akan memahami dirimu,
Dan kau akan mengenali diriku,
Karna memahamiku adalah sejauh mana kau memahami dirumu sendiri…..!!!

06  Juli 2014
Ada yang tertawa hingga terbahak,
Ada yang tersenyum, ada yang termangu
Mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan
Aku hanya terdiam
Dalam hati berkata
“apa yang sedang mereka bicarakan?”
“apa yang mereka tertawakan?”
“dan apa yang membuat mereka termangu ?”
Seperti terasing,
Tak ada kesempatan untuk memahami,
Atau terlalu takut untuk memahaminya
Aku ada bagaikan tiada,
Aahhh kawan, masihkah kawan yang dahulu?
TerAsing…